Jumat, 29 Januari 2010

rahasia bintang

"RENO! Cepetan, nanti yang punya rumah keluar!" Keysha berteriak pada sahabatnya yang bersusah payah menggapai layangan di atas pohon. Wajahnya terlihat cemas. Bekali-kali ia menengok ke kanan dan kiri karena takut kepergok pemilik rumah.      Reno merangkak di salah satu cabang pohon, berusaha sekuat tenaganya menggapai buntut layangan itu. Ia mengulurkan tangan sejauh mungkin dan… Dapat! Tapi saat itu juga ia kehilangan keseimbangannya. "Woo... Woo..." Braaak! Reno terjatuh di atas semak-semak sambil memegang kuat layangannya.     Terdengar langkah berat pemilik rumah mendekati pintu teras sambil terbatuk-batuk. Panik mendengar suara pemilik rumah, secepat kilat Keysha menarik Reno untuk ngumpet di balik semak-semak.     Lelaki tua pemilik rumah itu membuka pintu teras dan melongokkan kepalanya dari celah pintu yang terbuka. Matanya yang pucat dan lebar mengintai keadaan sekeliling rumah. Reno dan Keysha menahan napas beberapa saat. Wajah mereka memucat. Kalau sampai pemilik rumah tahu ada dua anak yang menyelinap masuk ke pekarangan rumahnya, mungkin mereka langsung dijadikan hidangan makan malam seperti di cerita nenek sihir. Itulah yang ada dalam pikiran kedua anak itu. Mengetahui lelaki tua itu telah kembali masuk ke rumahnya, Reno dan Keysha menghela napas lega sambil mengelus-elus dada masing-masing. "Untung monster itu nggak ngeliat kita!" ujar Reno menyebut lelaki itu dengan julukan monster. Ia berjalan menyusuri perkebunan teh bersama Keysha.     "Habisan kamu kelamaan ngambil layangannya sih!"     "Aku kan takut jatuh!"     "Ah… masa cowok penakut?"     "Emangnya cowok nggak boleh takut? Daripada kamu… cengeng!"      "Biarin! Bukan urusan kamu, tau!" Keysha berkacak pinggang. Tapi Reno terlihat cuek aja dengan tindakkan gadis kecil itu. Ia malahan mempercepat langkahnya. "Reno! Tunggu!!!""Ini layangan kamu," ucap Reno ketika Keysha berhasil manyamai langkahnya. Kemudian tangannya memegang-megang ketapel yang ia gantungkan di lehernya.     Keysha menerima layangan itu. Mereka berjalan menyusuri deretan perkebunan teh di Bandung. Para pemetik teh selalu menyapa setiap kali bertemu kedua anak ini. Memang, sebagian perkebunan di daerah itu milik keluarga Reno dan Keysha. Karenanya otomatis penduduk sekitar amat mengenal mereka. Kakek Keysha dan kakek Reno memang bersahabat karib. Sewaktu muda, merekalah yang mengelola perkebunan teh di daerah ini.     Rumah-rumah di daerah itu jarang sekali berpagar. Biasanya hanya ada tanaman sebagai pengganti pagar. Justru itu yang membuat suasana jadi begitu asri. Rumah kakek Keysha sangat nyaman. Di belakangnya ada taman luas yang ditumbuhi berbagai macam bunga warna-warni. Kakek dan nenek Keysha memang paling rajin merawat bunga-bunga mereka. Di taman yang indah itu ada ayunan dan jalan batu yang mengarah ke halaman belakang rumah kakek Reno. Yah, bisa dibilang itu jalan penghubung kedua rumah tersebut. "Tembak yang itu, Reno. Pasti airnya banyak." tunjuk Keysha pada sebuah jambu yang terlihat paling besar diatas pohon.Reno menyipitkan matanya, memperhitungkan posisi tembakan agar tepat ke sasaran. Reno emang paling jago deh, kalo urusan ketapel. Tembakannya selalu tepat sasaran. Reno mengangkat ketapelnya, menarik karetnya dan....Pletak! Sedetik kemudian sebuah jambu merah dan segar terjatuh."Asiiik... itu, sekarang yang itu, Ren! Ayo, Ren!" Keysha kembali menunjuk jambu yang diinginkannya. Cewek ini emang cerewet dan banyak maunya. Tapi Reno selalu aja mengabulkan keinginannya.Reno kembali mengambil ancang-ancang dan menarik karet ketapelnya. Namun tiba-tiba..."Wooii!!! Kurang ajar! Sembarangan ketapelin orang!" teriak seorang pria dari balik semak-semak sambil membenarkan posisi sarungnya. Siapa sih yang nggak marah kalo lagi asik-asik mengeluarkan isi perutnya, tahu-tahu kena batu nyasar? Reno memandang Keysha panik. "Keysha, LARIII!!!" secepat kilat mereka lari meninggalkan pria itu yang sibuk marah-marah ke mereka sambil mengacung-acungkan sandal jepitnya. Sekarang Reno sudah kelas empat SD. Sedangkan Keysha baru kelas dua. Mereka satu sekolah. Makanya berangkat-pulang selalu bareng. Reno itu bandelnya minta ampun. Kerjaannya disetrap di depan kelas. Entah gara-gara nggak buat PR lah, berisik karena sering mukul-mukulin meja lah, atau mentok-mentoknya berantem. Dia paling males disuruh  ngafalin lagu wajib. Saking bandelnya, sampai-sampai ayahnya sering banget dipanggil kepala sekolah. Bahkan suatu hari ibunya pernah memergoki tas sekolahnya penuh bola dan pesawat-pesawatan dari kertas buat main perang-perangan. Reno punya potongan rambut yang lucu banget. Dari kecil, gara-gara salon jauh, ayahnya sering menaruh mangkuk di atas kepalanya dan motongin rambutnya mengikuti garis mangkuk… Hihihi.      Kalau malam tiba, Keysha dan Reno paling suka duduk-duduk di ayunan di taman belakang sambil memandang bintang. Di daerah ini, bintang bisa kelihatan jelas banget. Wajarlah, soalnya polusi di daerah ini nggak separah di kota besar. Seperti halnya malam ini."Hari ini bintangnya banyak banget!" Keysha kegirangan melihat keindahan langit malam itu. "Bintang yang itu terang banget ya, Ren…" Keysha menunjuk sebuah bintang."Hmm… mungkin itu Dhruva." "Dhruva?""Iya. Kata kekekku, di India ada bintang yang nggak pernah berpindah tempat. Namanya Dhruva. Katanya, bintang itu adalah lambang keinginan yang kuat…" Reno kelihatan sangat cerdas saat bercerita. "Ayo kamu sebutin keinginan kamu…"Gadis kecil itu menerawang. Pikirannya dipenuhi oleh segala macam impian-impian konyol anak kecil. "Hmm… Aku pengen jadi seorang Putri, dansa sama pangeran di taman yang penuh dengan bunga.""Yee… kamu jangan sebutin keinginan yang nggak masuk akal kayak gitu!""Itu masuk akal, tahu!" Keysha kelihatan marah. Ia berkacak pinggang, "Atau...""Atau apa?""Aku pengen ke Bintang," ucap Keysha sambil menengadah ke langit.Sepi. Malam ini sangat tenang. Langit menawarkan pemandangan menakjubkan dengan hamparan Bima Sakti yang amat jelas. Bintang-bintang seakan mendengar semua percakapan kedua sahabat itu."Mppff...hi..hi.. HUAHAHA...""Kamu kok ketawa sih, Reno!" Keysha melotot melihat sahabatnya yang tertawa terpingkal-pingkal."Habisan keinginan kamu konyol semua...huahaha..""Uggh! Awas kamu Reno!"Reno  masih tertawa terpingkal-pingkal. Tapi sesaat kemudian terdiam, menengadah ke langit memerhatikan bintang Dhruva. Ia menghela napas panjang. "Keysha, Besok aku harus ikut ayah–ibuku pergi. Ayah pindah tugas ke Belanda.""Ke Belanda? Belanda itu di mana, Reno?""Belanda itu jauuuh sekali. Lebih jauh dari bintang," Reno berkata sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.Beberapa saat kedua sahabat itu terdiam. Suasana hening. Hanya terdengar suara binatang malam yang entah dimana keberadaannya."Reno nggak boleh pergi…," tiba-tiba Keysha berucap lirih penuh harapan. Matanya yang bulat dan jernih terlihat mulai berkaca-kaca.Reno menatap sahabatnya dengan cemas. Ia menggigit ujung bibir bawahnya. Kemudian kepalanya dimiringkan hingga ia menatap wajah sahabatnya. "Hmm… kamu jangan nangis. Aku janji, kalo aku pulang nanti, kita bakalan berkeliling perkebunan sampai jauuuuh sekali," Reno berusaha menghibur. Tapi kayaknya usahanya kurang berhasil, soalnya Keysha masih tetap nangis. Reno melepas ketapel yang ia kalungkan di lehernya dan memberikannya pada Keysha. "Ini buat kamu. Tanda persahabatan kita."Keysha berusaha menghapus air matanya. Ia menatap Reno sejenak sebelum akhirnya menerima ketapel pemberian Reno. Agak lama ia menatap benda kesayangan Reno itu. Reno tersenyum kecil, seperti merelakan benda kesayangannya ia berikan untuk sahabatnya itu.Mendadak Keysha teringat sesuatu. Dengan cepat gadis kecil itu berlari masuk kedalam rumah. Sesaat kemudian ia kembali sambil membawa sebuah benda bulat terbuat dari kaca yang dalamnya berisi air dan terdapat sebuah rumah mungil dengan bintang-bintang kecil yang menghujani rumah itu jika dikocok. "Ini benda kesayangan aku. Hadiah Ulang Tahun dari kakek..." ucap Keysha menunjukkan pada Reno. "Buat kamu..." Reno terlihat ragu menerima pemberian sahabatnya itu. Tapi ia pun menerimanya tanpa berpikir macam-macam."Kalo begitu, meskipun aku jauh, selama ada ini, kita bakalan terus bersahabat, kan?"Keysha menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil mengelap air matanya dengan telapak tangannya. 
ลก›
Suara pantulan bola terdengar keras dari kamar Reno. Lelaki kecil itu terlihat tengah menendang-nendang bola pada tembok kamarnya. Di atas meja, telah siap koper dan kardus-kardus yang berisi barang-barang miliknya. Pagi ini adalah saat dimana Reno harus meninggalkan sahabatnya dan meninggalkan semua kenangan mereka. Reno memang masih kecil, tapi dia tahu kalau begitu berat rasanya meninggalkan seseorang yang disayanginya.Bola terpantul keras pada tembok dan... PRANG!!! Pajangan kaca pemberian Keysha, pecah terkena bola. Bintang-bintang didalamnya berserakkan dilantai. Reno panik. Ia berusaha mengumpulkan kembali isi pajangan tersebut. Tetapi saat itu juga orang tua Reno memanggilnya untuk bersiap-siap berangkat ke bandara agar tidak ketinggalan pesawat pertama.
     Saat terbangun dari tidurnya, Keysha mendapati rumah Reno telah kosong. Jendela di kamar Reno terbuka, menyebabkan gordennya berkibar tertiup angin. Sahabatnya telah benar-benar pergi. Kenapa Reno nggak pamit? Apa Reno lupa? "Tadi Reno pamitan sama Kakek. Dia nggak mau membangunkan kamu," Kakek berusaha memberi penjelasan kepada cucunya itu.Gadis kecil itu menangis, karena tak tahu apa yang harus ia lakukan. Apalagi ketika melihat pajangan kaca kesayangannya yang ia berikan pada Reno sebagai tanda persahabatan mereka pecah. Dengan membawa ketapel pemberian Reno, Keysha berlari menyusuri perkebunan teh menuju sebuah bukit kecil. Tanpa ragu ia lemparkan ketapel pemberian Reno. Ia buang jauh-jauh benda itu dari hadapannya. Agar semua tentang Reno juga ikut hilang. Tubuhnya terasa lemas, nafasnya naik-turun. Gadis kecil itu bingung dengan apa yang dirasakannya. Makanya dia cuma bisa menangis. Menangis sekencang-kencangnya.Malamnya, ia duduk di taman. Dhruva masih ada seperti kemarin. Diam, tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya."Dhruva... Reno pergi... Aku ditinggalin...," ucap Keysha terbata. Matanya yang bulat terlihat berair. "Kata Kakek, yang namanya sahabat nggak akan ninggalin kita begitu aja. Tapi kenapa Reno ninggalin aku? Apa Reno bukan sahabat aku?" air mata menetes dari matanya. "Dhruva, kenapa Reno mecahin barang kesayangan aku? Aku benci Reno! Aku nggak percaya lagi sama sahabat. Aku nggak mau punya sahabat lagi. Aku bisa kok, punya banyak temen meskipun aku nggak punya satu orang sahabat..." lanjutnya penuh kekecewaan. Nafas gadis kecil itu terasa berat. "Aku nggak mau ketemu Reno lagi. Lebih baik... Reno nggak usah balik ke sini..." Keysha tertunduk, suara tangis terdengar perlahan. Ia menghela nafas panjang. "Fiuh... lebih baik begitu.."

0 komentar:

Posting Komentar